BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Lahirnya Eksistensialisme
Filsafat eksistensialisme adalah salah satu aliran
filsafat yang mengguncangkan dunia walaupun filsafat ini tidak luar biasa dan
akar-akarnya ternyata tidak dapat bertahan dari berbagai kritik.
Filsafat
selalu lahir dari suatu krisis. Krisis berarti penentuan. Bila terjadi krisis,
orang biasanya meninjau kembali pokok pangkal yang lama dan mencoba apakah ia
dapat tahan uji. Dengan demikian filsafat adalah perjalanan
dari satu krisis ke krisis yang lain. Begitu juga filsafat eksistensialisme
lahir dari berbagai krisis atau merupakan reaksi atas aliran filsafat yang
telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia.
- Latar Belakang (Sejarah) Aliran Idealisme
Aliran
ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran
manusia. Mula-mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang
murni dari Plato. Yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang
merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini
hanya berupa bayangan saja dari alam idea.
Aristoteles
memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide
sebagai suatu tenaga yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya
dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa paham idealisme sepanjang masa
tidak pernah hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya
pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.
- Rumusan Masalah
Yang
akan dirumuskan dalam makalah ini ialah..
1. Bagaimana kedua aliran ini dalam
perjalanan hidupnya ?
2. Bagaimana kronologi hadirnya aliran ini
?
3. Bagaimana ending dari kedua aliran ini ?
4. Apakah sampai sekarang aliran ini masih
meninggalkan peran nya sebagai aliran yang pernah hadir dulunya ?
- Tujuan Penulisan
Tujuan kami dari pada pemaklaah ialah, memaparkan sedikit
yang kami tahu dan pelajari sebelumnya tentang kedua aliran ini, dan akan kita
bahas untuk kita ketahui bersama, banyak di antara kita yang tidak terlalu open
akan sejarah yang pernah hadir dulunya, maka dari itu kami akan mencoba berikan
sedikit sentuhan melalui makalah ini dan moga nantinya bisa bermanfaat bagi
kita semua.
BAB
II
PEMBAHASAN
FILSAFAT
EKSISTENSIALISME DAN IDEALISME
A.
Pengertian Eksistensialisme
Definisi
eksistensialisme tidak mudah dirumuskan, bahkan kaum eksistensialis sendiri
tidak sepakat mengenai rumusan apa sebenarnya eksistensialisme itu.
Sekalipun demikian, ada sesuatu yang
disepakati, baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama
menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral Namun tidak ada salahnya,
untuk memberikan sedikit gambaran tentang eksistensialisme ini, berikut akan
dipaparkan pengertiannya.
Kata
dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari bahasa Latin ex
yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah
berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya
sendiri, manusia sadar tentang dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau
pribadi. Pikiran semacam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein (da artinya di
sana, sein artinya berada).
Dari
uraian di atas dapat diambil pengertian bahwa cara berada manusia itu
menunjukkan bahwa ia merupakan kesatuan dengan alam jasmani, ia satu susunan
dengan alam jasmani, manusia selalu mengkonstruksi dirinya, jadi ia tidak
pernah selesai. Dengan demikian, manusia selalu dalam keadaan membelum; ia
selalu sedang ini atau sedang itu.
Untuk
lebih memberikan kejelasan tentang filsafat eksistensialisme ini, perlu kiranya
dibedakan dengan filsafat eksistensi. Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi
adalah benar-benar seperti arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara
wujud manusia sebagai tema sentral.
Sedangkan filsafat eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menyatakan
bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di
dunia; sapi dan pohon juga. Akan tetapi cara beradanya tidak sama. Manusia
berada di dalam dunia; ia mengalami beradanya di dunia itu; manusia menyadari
dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti
yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu dan salah satu di
antaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Artinya bahwa
manusia sebagai subyek. Subyek artinya yang menyadari, yang sadar.
Barang-barang yang disadarinya disebut obyek.
B.
Latar Belakang Lahirnya Eksistensialisme
Filsafat
eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat yang mengguncangkan dunia
walaupun filsafat ini tidak luar biasa dan akar-akarnya ternyata tidak dapat bertahan
dari berbagai kritik.
Filsafat
selalu lahir dari suatu krisis. Krisis berarti penentuan. Bila terjadi krisis,
orang biasanya meninjau kembali pokok pangkal yang lama dan mencoba apakah ia
dapat tahan uji. Dengan demikian filsafat adalah perjalanan
dari satu krisis ke krisis yang lain. Begitu juga filsafat eksistensialisme
lahir dari berbagai krisis atau merupakan reaksi atas aliran filsafat yang
telah ada sebelumnya atau situasi dan kondisi dunia, yaitu:
1.
Materialisme
Menurut
pandangan materialisme, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya
kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama
dengan benda, akan tetapi mereka mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada
prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir manusia hanyalah sesuatu
yang material; dengan kata lain materi; betul-betul materi. Menurut bentuknya
memang manusia lebih unggul ketimbang sapi tapi pada eksistensinya manusia sama
saja dengan sapi.
2.
Idealisme
Aliran
ini memandang manusia hanya sebagai subyek, hanya sebagai kesadaran;
menempatkan aspek berpikir dan kesadaran secara berlebihan sehingga menjadi
seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang
lain selain pikiran.
3.
Situasi dan Kondisi Dunia
Munculnya
eksistensialisme didorong juga oleh situasi dan kondisi di dunia Eropa Barat
yang secara umum dapat dikatakan bahwa pada waktu itu keadaan dunia tidak
menentu. Tingkah laku manusia telah menimbulkan rasa muak atau mual. Penampilan
manusia penuh rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama
yang palsu yang disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura, kebencian
merajalela, nilai sedang mengalami krisis, bahkan manusianya sendiri sedang
mengalami krisis. Sementara itu agama di sana dan di tempat lain dianggap tidak
mampu memberikan makna pada kehidupan.
C.
Tokoh-tokoh Eksistensialisme dan Ajarannya
Tokoh-tokoh
eksistensialisme ini cukup banyak, di antaranya: Kierkegaard, Friedrich
Nietzsche, Karl Jaspers, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, dan Sartre. Namun
dalam makalah ini penulis membatasi pada dua tokoh ini yang dipandang mewakili
tokoh-tokoh lainnya, yaitu Soren Aabye Kierkegaard dan Jean Paul Sartre.
1.
Soren Aabye Kierkegaard
Soren
Aabye Kierkegaard (1813-1855) lahir di Kopenhagen, Denmark. Ia lahir ketika
ayahnya berumur 56 tahun dan ibunya 44 tahun. Ia mulai belajar teologi di
Universitas Kopenhagen. Ia menentang keras pemikiran Hegel yang mendominasi di
Universitas tersebut. Dalam kurun waktu ini ia apatis terhadap agama, ingin
hidup bebas dari lingkungan aturan agama. Setelah mengalami masa krisis
religius, ia kembali menekuni ilmu pengetahuan dan menjadi Pastor Lutheran.
Pada
tahun 1841 ia mempublikasikan buku pertamanya (disertasi MA) Om Begrebet Ironi
(The Concept of Irony). Karya ini sangat orisinal dan memperlihatkan
kecemerlangan pemikirannya. Ia mengecam keras asumsi-asumsi pemikiran Hegel
yang bersifat umum. Karya agungnya terjelma dalam Afsluttende Uvidenskabelig
Efterskriff (Consluding Unscientific Postcript) tahun 1846, mengungkapkan
ajaran-ajarannya yang bermuara pada kebenaran subyek. Karya-karya lainnya
adalah Enten Eller (1843) dan Philosophiske Smuler (1844). Sedangkan buku-buku
yang bernada kristiani adalah Kjerlighedens Gjerninger (Work of Love) 1847,
Christelige Taler (Christian Discourses) 1948, dan Sygdomen Til Doden (The
Sickness into Death) tahun 1948).
Ide-ide
pokok Soren Aabye Kierkegaard adalah sebagai berikut:
a.
Tentang Manusia.
Kierkegaard
menekankan posisi penting dalam diri seseorang yang "bereksistensi"
bersama dengan analisisnya tentang segi-segi kesadaran religius seperti iman,
pilihan, keputusasaan, dan ketakutan. Pandangan ini berpengaruh luas sesudah
tahun 1918, terutama di Jerman. Ia mempengaruhi sejumlah ahli teologi protestan
dan filsuf-filsuf eksistensial termasuk Barh, Heidegger, Jaspers, Marcel, dan
Buber.
Alur
pemikiran Kierkegaard mengajukan persoalan pokok dalam hidup; apakah artinya
menjadi seorang Kristiani? Dengan tidak memperlihatkan "wujud" secara
umum, ia memperhatikan eksistensi orang sebagai pribadi. Ia mengharapkan agar
kita perlu memahami agama Kristen yang otentik. Ia berpendapat bahwa musuh bagi
agama Kristiani ada dua, yaitu filsafat Hegel yang berpengaruh pada saat itu.
Baginya, pemikiran abstrak, baik dalam bentuk filsafat Descartes atau Hegel
akan menghilangkan personalitas manusia dan membawa kita kepada kedangkalan
makna kehidupan. Dan yang kedua adalah konvensi, khususnya adat kebiasaan
jemaat gereja yang tidak berpikir secara mendalam, tidak menghayati agamanya,
yang akhirnya ia memiliki agama yang kosong dan tak mengerti apa artinya
menjadi seorang kristiani.
Kierkegaard
bertolak belakang dengan Hegel. Keberatan utama yang diajukannya adalah karena
Hegel meremehkan eksistensi yang kongkrit, karena ia (Hegel) mengutamakan idea
yang sifatnya umum. Menurut Kierkegaard manusia tidak pernah hidup sebagai
sesuatu "aku umum", tetapi sebagai "aku individual" yang
sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain.
Kierkegaard sangat tidak suka pada usaha-usaha untuk menjadikan agama Kristen
sebagai agama yang masuk akal (reasonable) dan tidak menyukai pembelaan
terhadap agama Kristiani yang menggunakan alasan-alasan obyektif.
Penekanan
Kierkegaard terhadap dunia Kristiani, khususnya gereja-gerejanya,
pendeta-pendetanya, dan ritus-ritus (ibadat-ibadat)nya sangat mistis. Ia tidak
menerima faktor perantara seperti pendeta, sakramen, gereja yang menjadi
penengah antara seorang yang percaya dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
b.
Pandangan tentang Eksistensialisme
Kierkegaard
mengawali pemikirannya bidang eksistensi dengan mengajukan pernyataan ini; bagi
manusia, yang terpenting dan utama adalah keadaan dirinya atau eksistensi
dirinya. Eksistensi manusia bukanlah statis tetapi senantiasa menjadi, artinya
manusia itu selalu bergerak dari kemungkinan kenyataan. Proses ini berubah,
bila kini sebagai sesuatu yang mungkin, maka besok akan berubah menjadi
kenyataan. Karena manusia itu memiliki kebebasan, maka gerak perkembangan ini
semuanya berdasarkan pada manusia itu sendiri. Eksistensi manusia justru
terjadi dalam kebebassannya. Kebebasan itu muncul dalam aneka perbuatan
manusia. Baginya bereksistensi berarti berani mengambil keputusan yang
menentukan bagi hidupnya. Konsekuensinya, jika kita tidak berani mengambil
keputusan dan tidak berani berbuat, maka kita tidak bereksistensi dalam arti
sebenarnya.
Kierkegaard
membedakan tiga bentuk eksistensi, yaitu estetis, etis, dan rligius.
·
Eksistensi
estetis menyangkut kesenian, keindahan. Manusia hidup dalam lingkungan dan
masyarakat, karena itu fasilitas yang dimiliki dunia dapat dinikmati manusia
sepuasnya. Di sini eksistensi estetis hanya bergelut terhadap hal-hal yang
dapat mendatangkan kenikmatan pengalaman emosi dan nafsu. Eksistensi ini tidak
mengenal ukuran norma, tidak adanya keyakinan akan iman yang menentukan.
·
Eksistensi
etis. Setelah manusia menikmati fasilitas dunia, maka ia juga memperhatikan
dunia batinnya. Untuk keseimbangan hidup, manusia tidak hanya condong pada
hal-hal yang konkrit saja tapi harus memperhatikan situasi batinnya yang sesuai
dengan norma-norma umum. Sebagai contoh untuk menyalurkan dorongan seksual
(estetis) dilakukan melalui jalur perkawinan (etis).
·
Eksistensi
religius. Bentuk ini tidak lagi membicarakan hal-hal konkrit, tetapi sudah
menembus inti yang paling dalam dari manusia. Ia bergerak kepada yang absolut,
yaitu Tuhan. Semua yang menyangkut Tuhan tidak masuk akal manusia. Perpindahan
pemikiran logis manusia ke bentuk religius hanya dapat dijembatani lewat iman
religius.
c.
Teodise
Menurut
Kierkegaard, antara Tuhan dengan alam, antara pencipta dan makhluk terdapat
jurang yang tidak terjembatani. Ia menjelaskan bahwa Tuhan itu berdiri di atas
segala ukuran sosial dan etika. Sedangkan manusia jauh berada di bawah-Nya.
Keadaan seperti ini menyebabkan manusia cemas akan eksistensinya. Tetapi dalam
kecemasan ini, seseorang itu dapat menghayati makna hidupnya. Jika seseorang
itu berada dalam kecemasan, maka akan membawa dirinya pada suatu keyakinan
tertentu. Perilaku ini memperlihatkan suatu loncatan yang dahsyat di mana
manusia memeluk hal yang tidak lagi masuk akal.
Selanjutnya
ia mengatakan bahwa agama Kristen itu mengambil langkah yang dahsyat, langkah
menuju yang tidak masuk akal. Di sana agama Kristen mulai. Alangkah bodohnya
orang yang ingin mempertahankan agama Kristiani. Tetapi menurut Kierkegaard
iman adalah segala-galanya. Bila seseorang itu memihak agama Kristen atau
memusuhinya atau memihak kebenaran atau memusuhinya. Agama Kristen itu bisa
benar secara mutlak tetapi bisa juga salah secara mutlak.
2.
Jean Paul Sartre
Jean
Paul Sartre (1905-1980) lahir tanggal 21 Juni 1905 di Paris. Ia berasal dari
keluarga Cendikiawan. Ayahnya seorang Perwira Besar Angkatan Laut Prancis dan
ibunya anak seorang guru besar yang mengajar bahasa modern di Universitas
Sorbone. Ketika ia masih kecil ayahnya meninggal, terpaksa ia diasuh oleh
ibunya dan dibesarkan oleh kakeknya. Di bawah pengaruh kakeknya ini, Sartre
dididik secara mendalam untuk menekuni dunia ilmu pengetahuan dan bakat-bakatnya
dikembangkan secara maksimal. Pengalaman masa kecil ini memberi ia banyak
inspirasi. Diantaranya buku Les Most (kata-kata) berisi nada negatif terhadap
hidup masa kanak-kanaknya.
Meski
Sartre berasal dari keluarga Kristen protestan dan ia sendiri dibaptiskan
menjadi katolik, namun dalam perkembangan pemikirannya ia justru tidak menganut
agama apapun. Ia atheis. Ia memngaku sama sekali tidak percaya lagi akan adanya
Tuhan dan sikap ini muncul semenjak ia berusia 12 tahun. Bagi dia, dunia sastra
adalah agama baru, karena itu ia menginginkan untuk menghabiskan hidupnya
sebagai pengarang.
Sartre
tidak pernah kawin secara resmi, ia hidup bersama Simone de Beauvoir tanpa
nikah. Mereka menolak menikah karena bagi mereka pernikahan itu dianggap suatu
lembaga borjuis saja. Dalam perkembangan pemikirannya, ia berhaluan kiri.
Sasaran kritiknya adalah kaum kapitalis dan tradisi masyarakat pada masa itu.
Ia juga mengeritik idealisme dan para pemikir yang memuja idealisme.
Pada
tahun 1931 ia mengajar sebagai guru filsafat di Laon dan Paris. Pada periode
ini ia bertemu dengan Husserl. Semenjak pertemuan itu ia mendalami fenomenologi
dalam mengungkapkan filsafat eksistensialisme-nya. Ia menjadi mashur melalui
karya-karya novel dan tulisan dramanya. Dalam bidang filsafat, karyanya yang
sangat terkenal adalah Being ang Nithingness, buku ini membicarakan tentang
alam dan bentuk eksistensinya. Eksistensialisme dan Humanism yang berisi
tentang manusia. Ia juga termasuk tokoh yang membantu gerakan-gerakan haluan
kiri dan pembela kebebasan manusia. Dengan lantang ia mengatakan bahwa manusia
tidak mempunyai sandaran keagamaan atau tidak dapat mengendalikan pada kekuatan
yang ada di luar dirinya, manusia harus mengandalkan kekuatan yang ada dalam
dirinya. Karya-karya yang lain adalah Nausea, No Exit, The Files, dan The Wall.
Ide-ide
pokok Sartre adalah sebagai berikut:
a.
Tentang Manusia
Bagi
Sartre, manusia itu memiliki kemerdekaan untuk membentuk dirinya, dengan
kemauan dan tindakannya. Kehidupan manusia itu mungkin tidak mengandung arti
dan bahkan mungkin tidak masuk akal. Tetapi yang jelas, manusia dapat hidup
dengan aturan-aturan integritas, keluhuran budi, dan keberanian, dan dia dapat
membentuk suatu masyarakat manusia. Dalam novel semi-otobiografi La Nausee
(1938) dan essei L'Eksistensialisme est un Humanism (1946), ia menyatakan
keprihatinan fundamental terhadap eksistensi manusiawi dan kebebasan kehendak.
Menurutnya, manusia tidak memiliki apa-apa sejak ia lahir. Dan sepertinya, dari
kodratnya manusia bebas dalam pilihan-pilihan atas tindakannya atau memikul
beban tanggung jawab.
Sartre
mengikuti Nietzsche yakni mengingkari adanya Tuhan. Manusia tak ada hubungannya
dengan kekuatan di luar dirinya. Ia mengambil kesimpulan lebih lanjut, yakni
memandang manusia sebagai kurang memiliki watak yang semestinya. Ia harus
membentuk pribadinya dan memilih kondisi yang sesuai dengan kehidupannya. Maka
dari itu "tak ada watak manusia", oleh karena tak ada Tuhan yang
memiliki konsepsi tentang manusia. Manusia hanya sekedar ada. Bukan karena ia
itu sekedar apa yang ia konsepsikan setelah ada---seperti apa yang ia inginkan
sesudah meloncat ke dalam eksistensi". Sartre mengingkari adanya bantuan
dari luar diri manusia. Manusia harus bersandar pada sumber-sumbernya sendiri
dan bertanggung jawab sepenuhnya bagi pilihan-pilihannya. Karena itu bagi
Sartre, pandangan eksistensialis adalah suatu doktrin yang memungkinkan
kehidupan manusia. Eksistensialime mengajarkan bahwa tiap kebenaran dan tiap
tindakan mengandung keterlibatan lingkungan dan subyektifitas manusia.
2.
Dua Tipe Ada: L'etre-pour-Soi dan L'etre-en-Soi
Pemikiran
Sartre tentang 'ada' tertuang dalam karya monumentalnya L'etre et Le neant
(Keberadaan dan Ketiadaan). Menurut dia, ada dua macam "etre" atau
:'ada', yaitu L'etre-pour-Soi (ada-untuk dirinya sendiri) dan L'etre-en-Soi
(ada-dalam dirinya sendiri).
a.
L'etre-en-Soi (being in itself/ada dalam dirinya sendiri)
L'etre-en-Soi
sama sekali identik dengan dirinya. L'etre-en-Soi tidak aktif, tidak juga
paisf, tidak afirmatif dan juga tidak negatif: kategori-kategori macam itu
hanya mempunyai arti dalam kaitan dengan amnesia. L'etre-en-Soi tidak mempunyai
masa silam, masa depan: tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan.
L'etre-en-Soi sama sekali kontingen, yang berarti ia ada begitu saja, tanpa
dasar, tanpa diciptakan, tanpa diturunkan, dari sesuatu yang lain. Jadi ada
dalam dirinya sendiri. Istilah L'etre-en-Soi ini untuk menunjukkan eksistensi
di dalamnya seseorang bertindak sebagai sesuatu yang ada begitu saja, tanpa
menyadari bahwa pilihan otentik, bebas, terbuka bagi semua tindakan seseorang.
Kualitas ada-dalam dirinya sendiri adalah milik semua benda dan manusia sejauh
mereka bertindak sebagai obyek yang diam.
b.
L'etre-pour-Soi
Konsep
ini tidak mentaati prinsip identitas seperti halnya dengan etre-en-soi.
Diungkapkan di sini, bahwa manusia mempunyai hubungan dengan keberadaannya. Ia
bertanggung jawab atas fakta bahwa ia ada dan bertanggung jawab atas fakta
bahwa ia seorang pekerja. Kalau benda-benda itu tidak menyadari dirinya ada,
tetapi manusia sadar bahwa ia berada. Di dalam kesadaran ini, yaitu di dalam
kesadaran yang disebut reflektif, ada yang menyadari dan ada yang disadari, ada
subyek dan ada obyek.
3.
Mauvaise Foi
Konsep
ini menjelaskan bahwa penyangkalan diri seseorang terutama faal tidak mengakui
dan tidak menerima bahwa seseorang mempunyai kebebasan memilih. Sikap ini
menghindar tanggung jawab dan takut membuat keputusan. Konsep ini juga
mengandung pengertian kurangnya penerimaan diri, teristimewa tidak menerima
atau menipu diri sendiri tentang apa yang benar mengenai diri sendiri.
4.
Kebebasan
Dalam
pemikiran Sartre selalu bermuara pada konsep kebebasan. Ia mendefinisikan
manusia sebagai kebebasan. Sartre memberikan perumusan bahwa pada manusia itu
eksistensi mendahului esensi, maksudnya setelah manusia mati baru dapat
diuraikan ciri-ciri seseorang. Perumusan ini menjadi intisari aliran
eksistensialisme dari Sartre. Kebebasan akan memberi rasa hormat pada dirinya
dan menyelamatkan diri dari sekedar menjadi obyek. Kebebasan manusia tampak
dalam rasa cemas. Maksudnya karena setiap perbuatan saya adalah tanggung jawab
saya sendiri. Bila seseorang menjauhi kecemasan, maka berarti ia menjauhi
kebebasan. Kebebasan merupakan suatu kemampuan manusia dan merupakan sifat
kehendak. Posisi kebebasan itu tidak dapat tertumpu pada sesuatu yang lain,
tetapi pada kebebasan itu sendiri.
Sartre
mengakui pemikiran Mark lebih dekat dengan keadaan masyarakat dan satu-satunya
filsafat yang benar dan definitif. Filsafat Mark telah memberikan kesatuan
konkrit dan dialektis antara ide-ide dengan kenyataan pada masyarakat. Mark
telah menekankan konsep keberadaan sosial ketimbang kesadaran sosial. Dan bagi
Sartre, Mark adalah seorang pemikir yang berhasil meletakkan makna yang
sebenarnya tentang kehidupan dan sejarah. Meski demikian, Sartre tidak
menganggap pemikiran Mark sebagai akhir suatu pandangan filsafat, karena
setelah cita-cita masyarakat tanpa kelas versi Mark terbentuk, maka persoalan
filsafat bukan lagi soal kebutuhan manusia akan makan dan pakaian, tetapi
persoalan filsafat mungkin dengan memunculkan tema yang baru, seperti soal
kualitas hidup manusia masa depan. Tetapi pemikiran Mark itu dinilai relevan
untuk masa kini.
D.
Pengertian Aliran Idealisme
Menurut
sebuah kamus filsafat, idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa
objek pengetahuan yang sebenarnya adalah ide (idea); bahwa ide-ide ada sebelum
keberadaan sesuatu yang lain; bahwa ide-ide merupakan dasar dari ke-ada-an
sesuatu.
Dalam kamus lain dijelaskan bahwa idealisme adalah sistem atau doktrin yang
dasar penafsirannya yang fundamental adalah ideal. Berlawanan dengan
materialisme yang menekankan ruang, sensibilitas, fakta, dan hal yang bersifat
mekanistik, idealisme menekankan supra-ruang, non-sensibilitas, penilaian, dan
ideologis.
Dalam tataran epistemologis, idealisme berpendapat bahwa dunia eksternal hanya
dapat dipahami hanya dengan merujuk pada ide-ide dan bahwa pandangan kita
tentang alam eksternal selalu dimediasi oleh tindakan pikiran.
Aliran
Idealisme dinamakan juga dengan spiritualisme. Idealisme berarti serba cita,
sedangkan spiritualisme berarti serba ruh. Idealisme berasal dari kata “idea”,
yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.
Aliran
idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa.
Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa
terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap
oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan
yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata
hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta
penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea.
B.
Tokoh-tokoh Aliran Idealisme
1.
Plato
Tokoh
aliran idealisme yang pertama kali adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates.
Plato mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah
menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut
kapasitas masing-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan 6. Mereka yang
memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang
tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai
dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang
menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami
pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam
melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran
tertinggi.
Mengenai
kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal dengan istilah ide, Plato
mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi
adalah kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh
bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan
yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur,
mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
2.
Immanuel Kant
Immanuel
Kant (1724 – 1808) merupakan salah seorang tokoh masa pencerahan. Filsafat
Immanuel Kant dikenal dengan Filsafat Kritisisme, yakni aliran yang mencoba
mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara
pada Empirisme Hume, dengan Rasionalisme dari Descartes. Kant mulai menelaah
batas-batas kemampuan rasio dan juga empirisme. Menurut Kant semua pengetahuan
mulai dari pengalaman, namun tidak berarti semua dari pengalaman. Obyek luar
ditangkap oleh indera, tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh
dari pengalaman tersebut. Immanuel Kant membawa pengaruh besar di Jerman dan
pemikiran nya menjadi landasan bagi J. Fichte (1762-1814), F. Schelling
(1775-1854) dan Hegel (1770-1831)
Kritik
pada pengetahuan, sebagai sarana mencapai kesimpulan filosofis, ditekankan oleh
Kant dan diterima oleh pengikutnya. Ada penekanan yang dilawankan dengan
materi, yang pada akhirnya mengarah pada penegasan bahwa hanya pikiranlah yang
eksis.
Di
dalam buku The Critique Of Pure Reason (edisi pertama, 1781) karangan terpenting
Kant. Yang dimaksud Kant dalam critique adalah pembahasan kritik. Dalam
pembahasannya ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas (pure reason).
Yang dimaksudnya akal murni adalah akal bekerja secara logis, katakanlah akal
yang di kepala. Ia dalam pembahansannya meletakkan akal murni itu di atas akal
tidak murni; akal tidak murni itu adalah indera. Pure reson itu menghasilkan
pengetahuan yang tidak melalui indera, bebas dari penginderaan. Untuk
mendapatkan pengetahuan itu adalah, menurut Kant, pengetahuan yang diperoleh
melalui akal murni itu kita peroleh dari watak dan struktur jiwa kita yang
inheren (lihat Durant, 1959;265). Jadi, cara masuknya pengetahuan itu adalah
melalui watak dan struktur jiwa yang ada pada kita.
Kita
ingat John Locke; ia mengatakan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari
pengalaman (lihat solomon1981;108). Jadi, tidak ada lagi pengetahuan yang masuk
lewat jalan lain. Kata Kant, pengetahuan tidak seluruhnya masuk lewat indera
(Durant, 1959;265).
Menurut
Kant, pengetahuan yang mutlak sebenarnya memang tidak akan ada bila seluruh
pengetahuan datang melalui indera. Akan tetapi bila pengetahuan itu datang dari
luar melalui akal murni, yang tidak bergantung pada pengalaman, bahkan tidak
bergantung pada indera, yang kebenarannya a priori. Kant memulainya dengan
mempertanyakan apakah ada yang dapat kita ketahui seandainya seluruh benda dan
indera dibuang. Seandainya tidak ada benda dan tidak ada alat pengindiera,
apakah ada sesuatu yang dapat kita ketahui?.
Menurut
buku Criticue, pengalaman tidak lain adalah lapangan yang menghasilkan
pengetahuan. Pengalaman mengatakan kepada kita apa-nya, bukan apa ia
sesungguhnya. Jadi, pengalaman tidak tidak menunjukkan hakekat objek yang
dialami. Oleh karena itu, pengalaman tidak dapat menghasilkan kebenaran umum.
Di
sini Kant mulai memperlihatkan apa yang diperjuangkannya; kebenaran umum harus
bebas dari pengalaman, harus jelas dan pasti dengan sendirnya (Durant,
1959;266). Maksudnya, pngetahuan yang umun, kebenaran yang umum, itu tetap
benar, tidak peduli apa pengalaman kita tentang kemudian. Bahkan kebenaran umum
itu benar sekalipun belum dialami. Inilah kebenaran yang a priori.
Di
dalam buku The Critique Of Pure Reason (edisi pertama, 1781) karangan
terpenting Kant, tujuan karya ini adalah untuk membuktikan bahwa, kendati
pengetahuan kita tak satupun yang mampu melampaui pengalaman. Menurutnya,
bagian pengetahuan kita yang a priori (atau teoritik) tidak hanya meliputi
logika, namun juga banyak hal yang tidak dimasukkan ke dalam logika atau disimpulkan
darinya.
Ada
empat argumen metafisis mengenai ruang waktu.
1)
Ruang bukanlah empirik, yang diabstrakkan dari pengalaman luar, karena ruang
dimisalkan keberadaannya dengan merujuk pada sesuatu yang ekternal, dan
pengalaman eksternal hanya dimungkinkan melalui kehadiran ruang.
2)
Ruang merupkan kehadiran a priori mutlak, yang mendasari semua persepsi
eksternal; karena kita tidak dapat membayangkan tentang ketiadaan ruang,
kendati kita dapat membayangkan bahwa dalam ruang itu tidak ada apa pun.
3)
Ruang tidaklah diskursif dan bukan konsep umum mengenai hubungan benda secara
umum, Karena yang ada hanyalah satu ruang, sedangkan yang biasa kita sebut
“ruangan” hanyalah bagian-bagiannya, bukan keutuhannya.
4)
Ruang tersaji sebagai ukuran besar yang tak terhingga, yang melingkupi seluruh
bagian ruang.
Argument
transcendental mengenai ruang berasal dari geometri. Kant berpendapat bahwa
geometri Euclidan di kenal a priori, kendati ia bersifat sintesis, yakni tidak
bisa ditarik dari logika semata. Bukti geometri, menurutnya, bergantung pada
angka; kita dapat melihat, misalnya. Bahwa, jika dua garis lurus berpotongan
pada sudut kanan, maka hanya garis lurus pada sudut kanan menuju keduanya yang
bisa ditarik melalui titik perpotongannya.
3.
Johann Gottlieb Fichte
Johann
Gottlieb Fichte adalah filosuf Jerman. Ia belajar teologi di Jena pada tahun
1780-1788 M. Berkenalan dengan filsafat Kant di Leipzig 1790 M. Berkelana ke
Konigsberg untuk menemui Kant dan menulis Critique of Relevation pada zaman
Kant. Buku itu dipersembahkannya kepada Kant. Pada tahun 1810-1812 M ia menjadi
rektor Universitas Berlin.
Johann
Gottlieb Fichte (1762 –1814) merupakan filosof yang mengembangkan beberapa
pemikiran dari Immanuel Kant. Menurut Fichte Fakta dasar dalam alam semesta
adalah ego yang bebas atau roh yang bebas. Dengan demikian dunia merupakan
ciptaan roh yang bebas.
Filsafatnya
disebut Wissenschaftslehre (ajaran ilmu pengetahuan). Dengan melalui metoda
deduktif fichte mencoba menerangkan hubungan Aku (Ego) dengan adanya benda-benda
(non-Ego). Karena Ego berpikir, mengiakan diri maka terlahirlah non-Ego
(benda-benda). Dengan secara dialektif (berpikir dengan metoda : tese, anti
tese, sintese) Fichte mencoba menjelaskan adanya benda-benda.
Secara
sederhana dialektika Fichte itu dapat diterangkan sebagai berikut: manusia
memandang obyek benda-benda dengan inderanya. Dalam mengindera obyek tersebut,
manusia berusaha mengetahui yang dihadapinya. Maka berjalanlah proses
intelektualnya untuk membentuk dan mengabstraksikan obyek itu menjadi
pengertian seperti yang dipikirannya.
Fichter
menganjurkan supaya kita memenuhi tugas, dan hanya demi tugas. Tugaslah yang
menjadi pendorong moral. Isi hukum moral ialah berbuatlah menurut kata hatimu.
Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus berupa langkah
menuju kesempurnaan spiritual.
4.
Friedrich Wilhelm Joseph Schelling
Friedrich
Wilhelm Joseph Schelling (1775-1854) Juga merupakan filosof yang menganut
aliran idealisme. Pemikiran Schelling tampak pada teorinya tentang yang mutlak
mengenai alam. Pada dirinya yang mutlak adalah suatu kegiatan pengenalan yang
terjadi terus-menerus yang bersifat kekal.
Friedrich
Wilhem Joseph Schelling telah mencapai kematangan sebagai filosuf pada waktu
itu ia masih amat muda. Pada tahun 1798 M, ketika usianya baru 23 tahun, ia
telah menjadi guru besar di Universitas Jena. Sampai akhir hidupnya
pemikirannya selalu berkembang.
Namun,
continuitasnya tetap ada. Dia adalah filosuf idealis Jerman yang telah
meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel. Ia pernah
menjadi kawan Fichte. Bersama Fichte dan Hegel, Schelling adalah idealis Jerman
yang terbesar. Pemikirannya pun merupakan mata rantai antara Fichte dan Hegel.
Fichte
memandang alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai basis
kebebasan moral, Schelling membahas realitas lebih obyektif dan menyiapkan
jalan bagi idealisme absolut Hegel. Dalam pandang Schelling, realitas adalah
identiik dengan gerakan pemikiran yang berevolusi secara dialektis.
Pada
Schelling, juga pada Hegel, realitas adalah proses rasional evolusi dunia
menuju realisasi berupa suatu ekspresi kebenaran terakhir. Tujuan proses itu
adalah suatu keadaan kesadaran diri yang sempurna.
Schelling
menyebut proses ini identitas absolut, Hegel menyebutkan ideal. Alam semesta
ini, katanya tidak pernah dibayangkan sebagai sistem raisional. Di sini ia
memperlihatkan bahwa susunan rasional adalah kontruks hipotesis yang memerlukan
pembuktian nyata, baik pada alam maupun pada sejarah.
Reese
(1980:511) menyatakan bahwa filsafat Schelling berkembang melalui lima tahap:
1.
Idealisme subyektif
2.
Filsafat alam
3.
Idealisme transcendental atau idealisme obyektif
4.
Filsafat identitas
5.
Filsafat positif
Dalam
filsafatnya ia mengatakan, jikalau kita memikirkan pengetahuan kita (obyek
pemikiran) Tentang manusia dan alam, Schelling menggambarkan bahwa ketika orang
mengadakan penyelidikan ilmiah tentang alam, subyektif (jiwa, roh) mengajukan
pertanyaan pada alam, sedangkan alam dipaksa untuk memberikan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan itu.
Bahwa
alam dapat menjawab pertanyaan itu, ini berarti bahwa alam itu sendiri bersifat
akal atau idea. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa alam tidak lain
adalah roh/jiwa yang tampak, sedang roh adalah alam yang tak tapak.
Pandangam
Schelling tentang alam diperkuat dengan teorinya tentang Aku Yang Mutlak. Bahwa
aku mutlak mengobyektifkan dirinya dalam alam yang ideal, jadi alam sebagai
yang diciptakan merupakan penampakan dari alam yang menciptakan.
Filasafat
Schelling dapat diringkaskan sebagai berikut ini: Bahwa Yang Mutlak atau Rasio
Mutlak adalah sebagai identitas murni atau indiferensi, dalam arti tidak
mengenal perbedaan antara yang subyektif dengan yang obyektif.
Dengan
mengikuti logika-tiga Fichte (tesis-anti tesis sintesis), ia menerapkannya pada
alam dan pada sejarah. Dari sini Schelling membangun tiga tahap sejarah:
a.
Masa Primitif yang ditandai oleh dominasi nasib
b.
Masa Romawi yang ditandai oleh reaksi aktif manusia terhadap nasib, ini masih
berlangsung hingga sekarang, dan
c.
Masa datang yang akan merupakan sintesis dua masa itu yang akan terjadi secara
seimbang dalam kehidupan; disana yang aktual yang ideal akan bersintesis.
5.
Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
Georg
Wilhelm Friedrich Hegel dikenal sebagai filosof yang menggunakan dialektika
sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang
dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan),
antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pengiyaan harus
berupa konsep pengertian yang empiris indrawi.
Menurut
hegel yang mutlak adalah roh yang mengungkapkan diri di dalam alam, dengan
maksud agar dapat sadar akan dirinya sendiri. Hakikat roh adalah ide atau
pikiran. Pernyataan Hegel yang terkenal adalah semuanya yang real bersifat
rasional dan semuanya yang rasional bersifat real. Maksudnya adalah bahwa
luasnya rasio sama dengan luasnya realitas.
Hegel
Mengelompokkan idealisme menjadi tiga bagian yaitu :
1)
Filsafat idealisme Subyektif, yakni idealisme yang berpangkal kepada subyek.
2)
Filsafat idealisme obyektif, yakni idealisme yang memandang bahwa ego berada di
dalam alam, dan alam berada di dalam ego
3)
Filsafat idealisme mutlak adalah idealismeyang merupakan sintese dari idelaisme
subyektif dan idealisme obyektif.
Idealisme
Absolut Hegel
Dari
perspektif umum sejarah filsafat, filsafat Hegel adalah usaha untuk
merehabilitasi metafisika usai dikotomi Kantian yang memisahkan antara noumena
dan fenomena. Ia berusaha untuk mengetahui yang absolut dan tak terbatas
melalui nalar murni. Hegel, dalam bukunya Encyclopedia of Philosophical
Science, memosisikan filsafatnya sebagai respon terhadap tiga tren filosofis:
rasionalisme metafisika kuno, filsafat kritis Kant, dan filsafat emosi Jacobi.
Dia menyatakan bahwa sementara rasionalisme kuno tepat dalam mempostulasikan
pengetahuan rasional tentang yang mutlak, ia tidak memiliki metodologi
dialektika yang tepat untuk mencapai pengetahuan itu dan terjebak model
pembuktian deduktif kuno. Sedangkan Kant, sekalipun tepat dalam kritiknya
terhadap model pembuktian ini, mengambil kesimpulan terlalu jauh sehingga dia
menyimpulkan ketidakmungkinan pengetahuan rasional apapun tentang yang mutlak.
Di sisi lain, penentangan Jacobi dan para filosof Romantik terhadap pembatasan
Kantian terhadap pengetahuan adalah tepat, akan tetapi solusi mereka—dengan
semata-mata bergantung kepada intuisi dan perasaan estetika atau relijius—tidak
dapat diterima. Dengan mengafirmasi pengetahuan rasional tentang yang absolut,
mengeyampingkan model pembuktian kuno, dan tidak menjadikan intuisi sebagai
sarana mencapai pengetahuan absolut, Hegel menawarkan solusinya sendiri yang
disebut dialektika.
Menurut
Hegel, berkebalikan dari kaum empiris, konsep lebih penting daripada objek dan
ide-ide mental. Idealisme Hegel bersifat metafisik, hal ini terlihat dari tesis
dasarnya yang menyatakan bahwa segala sesuatu dalam alam dan sejarah adalah
manifestasi dari ide absolut. Ide di sini tidak dipahami sebagai sesuatu yang
berada dalam pikiran manusia. Tentang idealisme dalam filsafat, Hegel menulis
”Idealisme dalam filsafat tidak lain adalah pengakuan bahwa yang terbatas
tidaklah memiliki eksistensi yang sebenarnya.”
Bagi
Hegel yang terbatas adalah sesuatu yang berhenti meng-ada (ceases to be).
Dengan demikian, idealisme bagi Hegel tidak hanya terbatas pada objek persepsi
saja, sebagai dipahami pendahulunya, tapi mencakup semua yang terbatas. Dia
menyimpulkan bahwa wujud yang terbatas adalah wujud yang tergantung dan,
karenanya, tidak sepenuhnya nyata. Wujud yang terbatas bergantung kepada yang
tak terbatas yang oleh Hegel disebut idea. Dia menulis ”Setiap wujud individual
merupakan satu aspek dari idea….Wujud individu dalam dirinya sendiri tidaklah
bersesuaian dengan konsep. Limitasi itulah yang kemudian mewujud dalam
keterbatasan dan kehancuran individu tersebut”. Yang terbatas, menurut
idealisme Hegel, bergantung secara eksistensial ontologis kepada idea. Konsepsi
idea sebagai gantungan ontologis segala yang terbatas mengasumsikan bahwa
realitas pada dasarnya bersifat konseptual, yakni diatur atas konsep tertentu.
Yang sebenarnya eksis, menurut Hegel, adalah keseluruhan (the whole), yang dia
sebut idea. Dia menyatakan bahwa ”Yang Sejati adalah keseluruhan. Tapi
keseluruhan tidak lain merupakan esensi yang mewujud-sempurnakan dirinya
melalui perkembangan”.
Ide
absolut yang menjadi gantungan segala sesuatu dipahami oleh Hegel secara
teleologis, yakni bahwa ia adalah tujuan tunggal yang mewujudkan dan mengatur
dirinya sendiri dari segala sesuatu. Bahwa segala sesuat hanya merupakan
manifestasi dari ide absolut ini berarti bahwa segala sesuatu bergerak dan
meng-ada untuk tujuan tunggal tersebut. Ada tiga hal yang mendasari tesis Hegel
ini. Yang pertama adalah monisme yang menyatakan bahwa semesta tidak terdiri
dari substansi yang beragam dan jamak, alih-alih, ia menyatakan bahwa semesta
hanya terdiri dari substansi tunggal. Bagi Hegel, hal-hal yang bersifat fisik
dan mental hanyalah penampakan dari substansi universal yang tunggal. Monisme
Hegel tidak berarti bahwa realitas adalah ke-satu-an yang murni; ketunggalan
yang tidak terbedakan tanpa perbedaan dalam dirinya sendiri. Idealisme
absolute, bagi Hegel, haruslah mampu menjelaskan kenyataan keragaman
benda-benda.
Hal
kedua yang mendasari tesis Hegel adalah organisisme yang menyatakan bahwa
realitas adalah keseluruhan yang hidup (living whole) or terbentuk dalam satu
proses hidup tunggal. Menurutnya, proses ini mengalami tiga tahap: kesatuan
yang belum sempurna (yang melahirkan identitas), diferensiasi (yang menimbulkan
perbedaan), dan kesatuan dari kedua tahapan (yang mewujud dalam identitas dalam
perbedaan). Ide tentang organisime ini menyiratkan perkembangan dalam idealisme
absolut Hegel berarti yang idea mengaktualisasi diri. Konsep perkembangan yang
secara umum dipahami dalam konteks ruang dan waktu, direkonseptualisasi oleh
Hegel dengan terma logika yang didasarkan pada konsep negasi. Negasi digunakan
untuk mengkonseptualisasi mekanisme perkembangan. Kerangka negasi ini yang
kemudian menjadi konsep kunci yang digunakan Hegel untuk menjelaskan realitas
sebagai keseluruhan yang berkembang (developing whole).
Hal
ketiga adalah rasionalisme yang menyatakan bahwa proses hidup ini memiliki
tujuan atau sesuai dengan idea yang dipahami bukan sebagai sesuatu yang
bersifat mental atau subjektif manusiawi. Hegel memahami idea sebagai arketip
yang memanifestasikan dirinya dalam yang subjektif dan objektif; mental dan
material.
Dalam
karya besarnya, The Encyclopedia of the Philosophical Sciences, Hegel membagi
sistem filosofisnya ke dalam tiga bagian: logika, filsafat alam, dan filsafat
roh. Dalam logika—bukan dalam pengertian tradisional—dia menjelaskan struktur
kategorial idea yang mendasari segala yang ada. Dua bagian yang lain merupakan
penjelasan dari struktur konseptual yang lebih spesifik yang mewujud dalam alam
dan roh; dimana keduanya adalah area manifestasi idea.
Metode
yang digunakan Hegel untuk membuktikan tesisnya tentang pengetahuan rasional
tentang yang absolut adalah metode dialektika. Metode ini muncul sebagai reaksi
atas pembatasan Kant atas pengetahuan hanya pada yang sensible dan pendapat
Kant yang memustahilkan pengetahuan rasional murni atas yang absolut. Tidak
seperti Kant yang membatasi pengetahuan pada pengalaman (phenomena), Hegel
memilih untuk memahami keseluruhan yang menjadi dasar semua pengalaman. Metode
dialektik yang diadopsi Hegel berbeda dengan dialektika yang dikenal
sebelumnya. Karena, bagi Hegel, dialektika Plato, misalnya, tidaklah murni
dialektik karena ia bermula dari proposisi yang telah diasumsikan, yang
karenanya tidak bersumber dari masing-masing elemen dialektik.
Menurut
Hegel, dialektik terdiri dari tiga aspek secara berurutan. Yang pertama adalah
aspek abstraksi, dimana pemahaman mengasumsikan bahwa sebuah konsep adalah
tidak terikat dan sepenuhnya terlepas dari hal lain. Aspek kedua adalah aspek
negasi ketika pemahaman menemukan bahwa ternyata konsepnya tidaklah sepenuhnya
terlepas dari yang lain, ia harus dipahami dalam kaitannya dengan hal lain.
Pada titik ini, pemahaman terperangkap dalam kontradiksi; disatu sisi ia harus
mengasumsikan ada yang tak terikat untuk mengakhiri rangkaian ikatan-ikatan,
tapi disisi lain ia tidak bisa mengasumsikan yang tak terikat karena ia selalu
menemukan batasan yang mengikatnya. Tahap ketiga adalah tahap spekulatif atau
rasional yang mengakhiri kontradiksi antar dua tahapan sebelumnya dengan
memandang bahwa yang tak terikat bukanlah sesuatu yang tersendiri melainkan
keseluruhan dimana segala yang terbatas hanyalah bagian darinya. Dengan
demikian bagi Hegel, keseluruhan mendahului bagian-bagiannya.
Dalam
kaitannya dengan agama, Hegel meyakini bahwa filsafat adalah pemahaman rasional
terhadap keimanan keagamaan. Sesuatu yang oleh seni dan agama dipahami pada
tingkat intuisi, oleh filsafat dipahami pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu
level konsep atau pemikiran sistematis. Konsep Hegel tentang yang absolut dalam
batas tertentu setara dengan konsep Tuhan dalam konsep agama tradisional.
Bahkan Hegel sering merujuk pada yang absolut dengan kata Tuhan. Beberapa segi
konsep Hegel juga mendukung konsep yang dikenal dalam agama tradisional,
seperti konsep teleologinya yang merestorasi konsep perhatian ilahiah
(providence) dalam agama Kristen. Konsep perkembangan yang dijabarkan Hegel
mendukung doktrin trinitas, yang baginya sang bapa merepresentasikan momen
kesatuan, sang anak momen perbedaan, dan roh kudus momen kesatuan dalam
perbedaan. Tapi dalam beberapa hal yang lain, Hegel juga menolak beberapa aspek
agama Kristen. Misalnya, dia menolak doktrin Tuhan transenden yang melampaui
alam dan sejarah. Baginya, yang absolut tidak dapat melampaui alam dan sejarah
karena ia mewujud hanya di dalam dan melalui keduanya.